News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pemimpi Jernih Ternyata Dapat Berkomunikasi Saat Tertidur

Pemimpi Jernih Ternyata Dapat Berkomunikasi Saat Tertidur

 


Layar Kunci - Banyak orang mengaku pernah bercakap-cakap dengan teman sekamar atau kekasihnya tatkala mereka masih setengah tidur, tetapi bagaimana dengan mimpi? Hal itu juga mungkin terjadi dimana para peneliti yang meminta para pemimpi menjawab pertanyaan mereka dengan menggerakkan mata yang telah diatur sebelumnya. Interaksi tersebut memiliki banyak kegunaan, tetapi sejauh ini hanya terbukti mungkin dilakukan dengan orang-orang dalam keadaan mimpi jernih yang langka dan tidak selalu pada saat itu.

Banyak yang memperkirakan bahwa hal tersebut tidak akan mungkin terjadi. Orang akan terbangun ketika ditanya pertanyaan atau gagal menjawab dan tentu saja tidak memahami pertanyaan tanpa salah menafsirkannya.

Peneliti menemukan bahwa individu dalam fase tidur rapid eye movement (REM) dapat berinteraksi dengan eksperimen dan terlibat dalam komunikasi waktu yang nyata. Pemimpi ternyata mampu memahami pertanyaan, terlibat dalam operasi memori kerja, dan menghasilkan jawaban.

Mimpi jernih belum tentu tajam. Tetapi hal itu merujuk pada mimpi di mana si pemimpi sadar bahwa mereka sedang bermimpi. Kadang-kadang mereka dapat menggunakan kendali atas jalannya impian mereka. Misalnya bepergian ke suatu tempat yang selalu mereka inginkan. Memiliki mimpi sadar sesekali adalah hal biasa, tetapi hanya sedikit orang yang sering mengalaminya.

Penggemar mimpi jernih amatir dan ilmuwan spesialis tidur baru-baru ini bereksperimen dengan teknik untuk memicu mimpi jernih. Beberapa uji coba telah membuahkan hasil yang menggembirakan.

Menyelidiki fenomena yang jarang terjadi dan tidak terduga adalah mimpi buruk. Namun, para peneliti sekarang mengambil langkah berikutnya dengan orang-orang yang telah cukup berhasil dalam mimpi jernih untuk membuat studi menjadi lebih praktis.

Beberapa peserta mampu menjawab pertanyaan ya-atau-tidak, membedakan suara yang berbeda saat bermimpi, dan bahkan melakukan perhitungan dasar. Alih-alih berbicara, balasannya melalui gerakan mata atau kedutan wajah.

Setelah bangun, salah satu peserta menggambarkan pesan dari peneliti yang datang, persis seperti narator film. Sementara yang lainnya bermimpi bahwa mereka berada di sebuah ruangan dengan lampu yang berkedip-kedip dan berkata, "Saya mengenali ini sebagai sinyal [berkode Morse] dari luar."

Tetapi terdapat peserta lain yang sama sekali tidak mengalami mimpi jernih. Bahkan ketika mereka melakukannya, hanya 40 persen menjawab pertanyaan dengan setengah jawaban salah atau terlalu tidak koheren untuk dinilai.

Beberapa metode menghasilkan tingkat respons yang lebih baik daripada yang lain. Penyempurnaan diharapkan akan memungkinkan penelitian yang lebih lanjut. Misalnya mengukur bagaimana kapasitas orang berubah saat bermimpi dan menguji keakuratan laporan mimpi pasca bangun. Fakta bahwa beberapa orang mengingat memberikan jawaban yang berbeda dari tanggapan mereka yang sebenarnya menunjukkan bahwa ingatan mimpi kita mungkin kurang dapat diandalkan daripada yang kita kira.

Meskipun demikian, para peneliti dapat menjelaskan misteri besar mengapa kita bermimpi dan mungkin jalan terbuka bagi terapis untuk membimbing orang melalui mimpi dengan cara mengatasi trauma saat bangun. (*)


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar