News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Reseptor Opioid Dibalik Gangguan Afektif Musiman

Reseptor Opioid Dibalik Gangguan Afektif Musiman

 


Layar Kunci – Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketersediaan reseptor opioid di otak dapat berubah seiring lamanya waktu siang hari. Hal ini dapat menjelaskan perubahan musiman dalam suasana hati dan perilaku manusia. Tingkat gangguan afektif musiman, sejenis depresi, meningkat selama musim dingin sementara emosi negatif lebih diredam selama musim panas.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Neuroscience tersebut mengamati pemindaian otak manusia dan tikus, menganalisis ketersediaan sistem reseptor µ-opioid atau µ-opioid receptor (MOR). Reseptor opioid berperan dalam mengatur suasana hati. Sementara MOR memiliki afinitas tinggi untuk jenis endorfin serta mengikat morfin. Hal ini merupakan bukti in vivo (pada manusia yang hidup) pertama dari sistem MOR pada manusia yang berfluktuasi sesuai musim.

Jumlah reseptor opioid tergantung pada waktu otak yang dicitrakan. Perubahan paling menonjol ternyata pada bagian otak yang mengontrol emosi dan kemampuan bersosialisasi manusia. Perubahan pada reseptor opioid yang disebabkan oleh variasi jumlah siang hari dapat menjadi faktor penting dalam gangguan afektif musiman.

Para peneliti pertama kali melihat data Positron Emission Tomography (PET) yang diambil dari database AIVO pada 204 subjek manusia. Data dikumpulkan antara tahun 2003 dan 2018 dan berasal dari 11 proyek penelitian yang berbeda. Para peneliti kemudian menghitung lamanya waktu siang hari pada hari-hari saat pemindaian dilakukan.

Efek yang signifikan secara statistik dari lama hari pada ketersediaan MOR diamati di kluster otak besar. Musim dengan ketersediaan MOR tertinggi adalah musim semi (Maret, April, dan Mei) dengan aktivitas MOR memuncak ketika hari antara 15 dan 19 jam. Variasi musiman ini terjadi di bagian otak yang terkait dengan proses emosional dan sosial, seperti amigdala, korteks cingulate, dan korteks temporal posterior superior.

Para penulis mengutip penelitian sebelumnya yang menunjukkan hubungan "intim" antara neurotransmisi opioid dan fluktuasi suasana hati musiman. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa MOR mempengaruhi pemberian makan dimana manusia makan lebih banyak lemak di musim dingin dan musim gugur. Tingkat bunuh diri tertinggi pada musim semi dan penelitian menunjukkan bahwa percobaan bunuh diri dengan resep opioid mencapai puncaknya pada musim semi dan musim gugur.

Pemeriksaan post-mortem pada orang yang meninggal karena bunuh diri menunjukkan peningkatan kepadatan MOR di otak mereka. Para peneliti berteori bahwa perubahan musiman dalam ketersediaan MOR dapat menjadi penyebab efek ini serta gangguan afektif musiman. (*)


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar