News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Media Sosial Membuat Anak Bertindak Seperti Tikus Lab

Media Sosial Membuat Anak Bertindak Seperti Tikus Lab

 


Layar Kunci –Media sosial ternyata mampu membuat anak bertindak seperti tikus percobaan atau tikus lab. Diperkirakan sekitar satu dari empat anak muda memiliki hubungan yang bermasalah dengan smartphone mereka. Mereka lebih mengejar "like" dan menghabiskan waktu berjam-jam di layar mereka seperti ngengat api. Efek kompulsif media sosial pada manusia ini sangat mirip dengan tikus laboratorium yang menekan tombol untuk makanan.

Ilmuwan di Universitas New York telah menunjukkan bagaimana keterlibatan media sosial, terutama upaya pengguna untuk mendapatkan like, yang didorong oleh perilaku pembelajaran penghargaan dasar. Meskipun motif dibalik perilaku ini pada manusia tidak diragukan lagi kompleksitasnya, tetapi pada dasarnya hal ini mengikuti pola perilaku sederhana yang sama sebagaimana terlihat pada banyak spesies saat mencari imbalan.

Mungkin yang paling jelas mengenai hal ini adalah mengingatkan pada tikus lab yang ditempatkan di kotak Skinner: tekan tombol yang benar untuk menerima camilan, makan, merasa enak, ulangi. Semakin banyak suguhan yang mereka dapatkan, semakin banyak mereka menekan tombol.

Hasil ini menetapkan bahwa keterlibatan media sosial mengikuti prinsip dasar, prinsip lintas spesies dari pembelajaran penghargaan. Temuan tersebut membantu memahami mengapa media sosial mendominasi kehidupan sehari-hari bagi banyak orang dan memberikan petunjuk tentang bagaimana masalah interaksi online dapat diatasi.

Untuk meneliti hal tersebut, para peneliti memulai dengan menganalisis lebih dari satu juta postingan dari lebih dari 4.000 orang di Instagram dan platform media sosial lainnya. Dengan melihat frekuensi posting, mereka menemukan bahwa orang-orang memasuki ritme posting yang memaksimalkan rata-rata berapa banyak "like" yang mereka terima. Hal ini berarti memposting lebih sering sebagai tanggapan atas jumlah like yang tinggi dan lebih jarang ketika mereka menerima lebih sedikit like. Para peneliti berpendapat bahwa dapat dianggap sebagai bentuk maksimalisasi penghargaan. Ini adalah fenomena yang terlihat pada hewan yang mencari makanan yang menjelaskan bagaimana perilaku tersebut didorong dan diperkuat oleh penghargaan.

Untuk menggali lebih dalam pertanyaan ini, tim mengumpulkan 176 orang untuk mengambil bagian dalam eksperimen online di mana mereka memposting meme dan menerima like pada platform mirip Instagram. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang memposting lebih banyak semakin sukses postingan mereka. Hal ini merupakan contoh lain dari perilaku pembelajaran reward yang serupa dengan yang terjadi pada hewan yang mencari makanan ringan.

Para peneliti ragu untuk mengatakan apakah penelitian ini menegaskan sifat adiktif media sosial dengan alasan mungkin ada sejumlah motivasi lain untuk memposting di media sosial selain pencarian penghargaan. Misalnya seperti ekspresi diri untuk pengembangan hubungan. Namun demikian, semakin banyak orang yang terlibat dalam penggunaan media sosial dan smartphone yang dapat dianggap adiktif dan bermasalah.

Awal bulan ini, para ilmuwan di King's College London merilis sebuah penelitian yang mengamati lebih dari 1.000 anak muda di Inggris dan menyimpulkan bahwa hampir 40 persen menunjukkan tingkat kecanduan smartphone. Dipasangkan dengan ini, mereka yang kecanduan smartphone lebih cenderung mengalami tidur yang buruk atau tidak teratur. (*)


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar